Wilujengan Tujuh Hari Wafatnya PB XIII

Senja menurun perlahan di langit Baluwarti, menyelimuti kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan suasana yang hening dan teduh. Di halaman keraton, ratusan warga duduk bersila, melafalkan doa dengan khusyuk. Suara tahlil dan lantunan Yasin bergema lembut, berpadu dengan desir angin sore yang membawa rasa kehilangan.

Suasana haru begitu terasa. Mereka datang bukan karena undangan resmi, melainkan dorongan hati. Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, raja yang mangkat pada Minggu (2/11/2025) di usia 77 tahun, kembali didoakan dengan tulus oleh rakyatnya. Di antara pelataran dan lorong keraton, tampak para keluarga dekat seperti KGPH Purboyo, GKR Timoer Rumbai, serta kerabat-kerabat lain yang turut hadir dalam wilujengan tujuh hari wafatnya sang raja.

Doa dari Warga Baluwarti
Rangkaian wilujengan dibuka dengan pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan Syahadat Kures. Di antara jamaah, seorang perempuan sepuh duduk dengan kain jarit batik yang rapi. Namanya Sulastri, 68 tahun, warga Baluwarti RT 002 RW 001. Ia datang dengan wajah teduh dan suara bergetar.
“Kalau datang ya ingin datang. Ingin mendoakan. Ingin ikut berdoa. Gitu loh. Semoga barokah,” tuturnya pelan, Jumat malam itu.

Sulastri bukan bagian dari keluarga dalam keraton, namun hatinya terpaut erat dengan tempat ini. Sejak malam wafat PB XIII, ia turut berjaga selama tiga malam berturut-turut hingga hari pemakaman.
Ia bercerita, doa yang dibacakan malam itu meliputi selawat, tahlil, dan pembacaan Yasin. Di balik tutur lembutnya, tersimpan harapan sederhana.

“Semoga Keraton Solo selalu tentrem, ayem. Wargane ikut bahagia. Berkah barokah, adem ayem,” katanya.

Kedamaian Keraton, Kebanggaan Warga
Tak jauh dari tempatnya, Handayani, 50 tahun, berdiri di depan rumahnya yang menempel di tembok keraton. Baginya, tinggal berdampingan dengan sejarah adalah kebanggaan yang tak tergantikan.
“Manfaatnya banyak. Kan itu suatu kebanggaan toh, ya, rumah dekat keraton,” ucapnya sambil tersenyum.

Bagi Handayani, kedamaian keraton dan ketentraman warga ibarat dua sisi dari mata uang yang sama.
“Kalau sini [keraton] damai, warga juga ikut damai. Ikut ayem, dapat berkah,” tuturnya.
Ia mengenang, warga sekitar kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan keraton—dari merangkai bunga hingga membantu persiapan upacara. “Biasanya juga disuruh rewang, bantu-bantu,” katanya dengan nada nostalgia. Ia pun mengikuti prosesi pemakaman PB XIII hingga ke Imogiri, Yogyakarta, tempat peristirahatan terakhir para raja Mataram.

Doa dan Tradisi yang Terjaga
Sementara itu, K.G.P.H. Hangabehi, putra sulung PB XIII, mengatakan keluarga besar masih dalam suasana duka. Malam itu, doa tujuh hari menjadi penanda penghormatan terakhir untuk sang ayahanda.

“Hari ini tepat tujuh harinya beliau, nanti malam ada tahlilan,” ujarnya singkat.
Hangabehi menegaskan bahwa keraton membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin hadir dan berdoa untuk PB XIII.

“Kita membuka untuk umum juga yang mau ikut mendoakan,” katanya.
Ia menambahkan, tradisi wilujengan tujuh hari dijalankan sebagaimana mestinya: khidmat, penuh doa, dan kesetiaan.

Malam pun turun perlahan di Baluwarti. Lilin-lilin menyala di serambi, menemani warga yang masih berzikir. Di antara gema doa dan lantunan ayat suci, terasa bahwa kepergian PB XIII bukan sekadar kehilangan seorang raja, melainkan juga penanda berakhirnya satu bab dalam sejarah panjang Keraton Surakarta. Namun bagi warga, doa-doa itu bukan tanda perpisahan, melainkan jembatan agar berkah dan kedamaian keraton tetap abadi di hati mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *