Keraton Solo Gelar Wilujengan Tujuh Hari Wafat PB XIII, Terbuka untuk Umum

Malam Jumat (7/11/2025), suasana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diselimuti khidmat. Di balik tembok tua dan gapura megahnya, doa-doa akan kembali dilantunkan untuk memperingati tujuh hari wafatnya Kanjeng Sinuhun Paku Buwono XIII (PB XIII). Pihak keraton membuka acara wilujengan ini untuk umum, memberi kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut mendoakan sang raja.

Kerabat keraton, KP Dani Nur Adiningrat, membenarkan bahwa masyarakat diperkenankan hadir. Doa bersama dijadwalkan dimulai pukul 19.30 WIB, dengan dua lokasi utama, yakni Masjid Agung Solo dan Sasana Parasdya Keraton Solo. “Acara ini terbuka untuk siapa pun yang ingin turut mendoakan,” ujarnya singkat.

Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat yang hadir diminta mengenakan busana rapi dan sopan. Penggunaan batik bermotif parang dan lereng tidak diperkenankan, begitu pula celana jeans, kaus, maupun celana panjang bagi perempuan. Adab berpakaian tetap dijaga sebagaimana tradisi yang berlaku di lingkungan keraton.

Wilujengan ini menjadi bagian dari rangkaian doa mengenang wafatnya PB XIII, yang berpulang pada Minggu (2/11/2025) di usia 77 tahun, dan telah dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Yogyakarta, pada Rabu (5/11/2025). Prosesi pemakamannya berlangsung penuh penghormatan dan diiringi suasana haru dari ribuan warga yang memadati jalan.

Jenazah PB XIII diberangkatkan dari Keraton Solo menuju Loji Gandrung, sebelum kemudian dibawa ke Imogiri menggunakan mobil ambulans. Dalam prosesi pelepasan, keluarga besar melakukan tradisi brobosan—tanda penghormatan terakhir dari darah keturunan Mataram. Peti jenazah kemudian dipindahkan ke kereta kuda berhias bunga, diiringi prajurit dan abdi dalem yang berjalan perlahan menuju Loji Gandrung sebagai tempat singgah terakhir di Kota Solo.

Sepanjang rute perjalanan, masyarakat berdiri di tepi jalan, sebagian menunduk, sebagian melambaikan tangan, memberi salam perpisahan bagi raja yang mereka hormati. Pemerintah Kota Solo turut menyiapkan armada bus untuk keluarga keraton, sementara para pelajar dan warga berjajar di sepanjang jalur prosesi. Tak kurang dari 80 prajurit Praja Mangkunegaran juga ditugaskan menjaga titik-titik strategis, sebagai simbol penghormatan bagi seorang raja yang telah menutup kisahnya dengan penuh wibawa dan cinta rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *