Respati Ardi Menutup Akhir Tahun 2025 di Lorong Kampung Gandekan

SOLO — Tidak ada panggung, tidak ada gegap gempita. Di lorong-lorong permukiman padat RW 008 Kelurahan Gandekan, Jebres, Wali Kota Surakarta Respati Ardi memilih merayakan pergantian Tahun Baru 2026 dengan cara yang lebih sunyi namun hangat: duduk lesehan bersama warga, Rabu (31/12/2025) malam. Ia datang bersama istrinya, Venessa Winastesia, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Solo.

Respati tiba tanpa jarak. Di tengah kerumunan yang saling menyapa, ia ikut larut dalam konsep “warga ketemu warga”—makan bersama kuliner kampung, bermain gim, pembagian doorprize, hingga membuka ruang aduan langsung. Sesekali, tawa pecah ketika warga saling menggoda dan anak-anak berlarian, seolah malam pergantian tahun bukan milik hitung mundur semata, tetapi milik kebersamaan yang jarang direncanakan.

Kebersamaan makin terasa ketika Respati tak hanya hadir sebagai tamu. Ia ikut membantu melayani dan menghidangkan makanan. Ada menu yang tak selalu singgah di meja sebagian warga—pizza dan barbeku—yang membuat malam itu terasa istimewa, tanpa perlu kemewahan.

Respati menegaskan, tahun baru tidak mesti dirayakan dengan pesta besar atau kembang api berlebihan. Baginya, esensinya justru berada pada kesederhanaan, kepedulian sosial, dan kebersamaan yang menyejukkan. Momen seperti ini, kata dia, bisa menjadi titik penguatan srawung—guyub yang menumbuhkan rasa memiliki di kampung-kampung kota.

Ketua RT 001/RW 008 Gandekan, Ananto Saputro, menyebut kegiatan malam tahun baru di wilayahnya telah rutin berjalan tiga tahun terakhir, digerakkan Karang Taruna. Konsepnya sederhana: acara dari warga untuk warga—yang berjualan warga setempat, yang membeli pun warga setempat. Kehadiran wali kota, katanya, menjadi kejutan yang menyenangkan; tidak setiap hari kepala daerah datang langsung, duduk lesehan, dan menyapa kampung mereka tanpa seremoni.

Malam itu, Gandekan tetap Gandekan: santai, akrab, dan intim. Warga berkumpul, saling menyapa, menikmati pergantian tahun dalam skala yang dekat—seakan mengingatkan bahwa kota tak selalu dibangun dari keramaian, tetapi dari pertemuan-pertemuan kecil yang menyalakan rasa percaya.

Sebelum Respati hadir, Benk Mintosih, pegiat kota sekaligus aktivis Baznas, mengisi suasana dengan motivasi dan permainan untuk warga. Menjelang pergantian hari, refleksi dan doa turut dipanjatkan—terutama bagi warga terdampak bencana di Sumatera. Tepat saat jam berganti, kembang api mini menyala singkat: tidak membelah langit terlalu tinggi, tetapi cukup untuk menandai satu hal—bahwa tahun baru bisa dimulai dari kampung, dari duduk bersama, dari rasa guyub yang dipelihara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *