Pagi itu, Jumat (7/11/2025), aroma kaldu dan daging yang telah lama dirindukan kembali mengepul dari dapur Warung Bakso Remaja Gading, Pasar Kliwon, Kota Solo. Setelah beberapa hari menutup pintu akibat kabar viral soal kehalalan produk, warung legendaris di Jalan Veteran, Gading, itu akhirnya kembali hidup—dan disambut suka cita pelanggan yang merindukan rasa lamanya.
Di tengah hiruk-pikuk antrean dan denting sendok beradu dengan mangkuk, Thirthania Laura Damayanthie, putri pemilik warung, tampak sibuk mondar-mandir melayani pembeli. Wajahnya lelah tapi berbinar. Di sela kesibukan, ia masih menyempatkan diri menjawab pertanyaan dengan senyum yang tak sepenuhnya menutupi rasa haru.
“Tadi pagi dari Polres kasih kupon 150 porsi, dibagikan jam 07.30. Terus ini nambah lagi 100 kupon,” tuturnya sambil mengatur napas. “Hari pertama buka, kami siapkan 500 porsi. Biasanya cuma 100 sampai 200. Harapannya, dengan ini pelanggan bisa percaya lagi sama kami.”
Bagi Laura, hari itu bukan sekadar pembukaan, melainkan pemulihan nama baik. Ia berharap ulasan Google yang sempat diserbu komentar negatif bisa kembali bersih. “Kami sedang berusaha memperbaikinya. Keluarga besar dan tetangga kami bantu memberi dukungan, agar warung ini bisa berdiri tegak lagi,” ujarnya dengan mata yang teduh namun tegas.
Beberapa hari sebelumnya, kabar melegakan datang. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, hasil uji laboratorium membuktikan bahwa produk Bakso Remaja Gading halal. Hasil itu diterima langsung dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Solo, Wahyu Kristina, pada Selasa siang (4/10/2025), di kantor Dispangtan.
Pertemuan tersebut dihadiri Tim Monitoring Unit Usaha Kuliner—sebuah gabungan lintas instansi yang terdiri atas Dispangtan, Kemenag, Balai POM, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perdagangan, Dinas Kesehatan, dan Satpol PP. Di ruang itu, Laura tampak menahan napas saat amplop hasil uji dibuka. Sesaat kemudian, lega membuncah di wajahnya.
Kini, bau kaldu kembali menebar di udara Gading. Para pelanggan duduk rapat, sendok beradu dengan mangkuk, dan tawa kecil pecah di antara mereka. Di sudut warung, Laura menunduk sebentar, mengucap syukur—karena kepercayaan, meski sempat runtuh, akhirnya mulai tumbuh kembali.